Selalu ada kenangan di setiap zamannya, kenangan yang takkan terlupakan. Mungkin waktu bisa memisahkan kita, namun hati kita kan tetap bersama. Menjunjung jiwa koursa dan asas kekeluargaan. Itulah Kita "Saka Kencana Kota Bandung"

STOP! Stigma dan Diskriminasi ODHA

ODHA (Orang dengan HIV dan AIDS) tidak ada bedanya dengan kita, mereka juga memiliki hak,kewajiban dan kesempatan yang sama dengan orang yang menderita penyakit serius lainnya. Beri ODHA dukungan dan harapan.Berikan semangat dan motivasi tanpa adanya diskriminasi (KPA_edited).

RENUNGKANLAH Sodaraku

Tidak aka ada kata FRUSTASI, takkan ada kata GALAU, takkan ada peristiwa bunuh diri karena PUTUS ASA jika kita selalu menghadirkan ALLOH didalam kehidupan kita.

Stand Saka Kencana Kota Bandung

Kapanpun, dimanapun temen - temen butuh temen curhat. Kami SIAP mendengarkan!!. :-D

Say NO to DRUGS

SAY NO TO DRUGS adalah kata kiasan yang sering kita dengar ataupun kata – kata yang sering kita lihat di tempat umum, kata tersebut keluar karena semua akan peduli dengan generasi penerus bangsa yang akan menjalani masa kedepannya.

Pohon Harapan

Hanya sebuah pohon kering namun ada sebuah spirit yang tertanam di dalam pohon tersebut. Spirit itu akan menularkan spirit - spirit lainnya pada orang yang menggantungkan cita2nya di setiap ranting pohon.... keinginan, cita dan harapan, semua dikembalikan pada yang Kuasa...

Jumat, 03 Januari 2014

Satuan Karya Pramuka Keluarga Berencana (Saka Kencana)

Jika kita berbicara tentang Pramuka Penegak-Pandega, maka erat kaitannya dengan Satuan Karya Pramuka atau yang sering kita kenal dengan istilah SAKA. Seperti yang kita tahu bahwa Saka merupakan wadah yang diperuntukan anggota Pramuka dalam menyalurkan minat dan mengembangkan bakat dan pengalaman pramuka dalam berbagai Ilmu Pengetahuan dan Teknologi dan keterampilan. Dari sekian banyak Saka yang ada, hanya sedikit pramuka Penegak - Pandega yang memahami Saka Kencana. Mengapa demikian? Mari kita telusuri, namun sebelumnya kita simak terlebihdahulu penjelasan selintas mengenai Saka Kencana..

Saka Kencana diatur oleh Kep.Kwarnas Gerakan Pramuka No.166 Thn. 2002 tentang:
PENYEMPURNAAN PETUNJUK PENYELENGGARAAN SATUAN KARYA PRAMUKA KELUARGA BERENCANA (SAKA KENCANA).
download PP No.166 Thn 2002 disini

Petunjuk penyelenggaraan ini disusun bedasarkan kepada:
1. Undang-undang nomor 10 Tahun 1992 tentang Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga Sejahtera.
2. Peraturan Pemerintah nomor 21 Tahun 1994 tentang Penyelenggaraan Pembangunan Keluarga Sejahtera.
3. Peraturan Pemerintah nomor  27 Tahun 1994 tentang Pengelolaan Perkembangan Kependudukan.
4. Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga Gerakan Pramuka. 
5. Keputusan Presiden Republik Indonesia nomor 109 tahun 1993 tentang Uraian Tugas Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional. 
6. Keputusan Kwarnas Gerakan Pramuka nomor 032 tahun 1989 tentang Petunjuk Penyelenggaraan Satuan Karya Pramuka.  
7. Keputusan Kwarnas Gerakan Pramuka nomor 66 tahun 1996 tentang Petunjuk Penyelenggaraan Satuan Karya Pramuka Keluarga Berencana. 

Satuan Karya Pramuka Keluarga Berencana yang disingkat Saka Kencana, yaitu salah satu Satuan Karya Pramuka yang merupakan wadah  kegiatan dan pendidikan untuk meningkatkan pengetahuan keterampilan praktis dan bakti masyarakat, dalam bidang Keluarga Berencana, Keluarga Sejahtera dan Pengembangan Kependudukan.

Dengan dibentuknya Saka Kencana, diharapakan anggota Gerakan Pramuka dapat menjadi tenaga kader pembangunan dalam bidang Keluarga Berencana, Keluarga Sejahtera dan Pengembangan Kependudukan guna memantapkan pelembagaan NKKBS (Norma Keluarga Kecil Bahagia Sejahtera) sebagai cara yang layak dan bertanggungjawab dari seluruh keluarga dan masyakarat Indonesia. Selain itu sasaran yang ingin dicapai, agar para anggota Gerakan Pramuka yang telah mengikuti kegiatan Saka tersebut: 
a. Memiliki pengetahuan, pengertian, keterampilan dan pengalaman dalam memasyarakatkan NKKBS terhadap anggota Pramuka dan keluarga Indonesia 
b.  Mampu dan mau menyebarluaskan kepada masyarakat tentang informasi dan pengetahuan tentang Keluarga Berencana, Keluarga Sejahtera dan Pengembangan Kependudukan serta kaitannya dengan pembangunan sektor lain.
c. Mampu memberikan latihan dan peranserta dalam mendukung kegiatan Keluarga Berencana, Keluarga Sejahtera dan Pengembangan Kependudukan kepada para Pramuka di Gugusdepannya.
d. Memiliki sikap yang rasional serta bertanggungjawab dalam mewujudkan kesadaran dan kepedulian keluarga sebagai pemrakarsa dan pelaksana pembangunan bangsa.  
e.  Menumbuh-kembangkan minat terhadap Saka Kencana di setiap Gugusdepan dan pembentukan Saka Kencana di setiap ranting di seluruh wilayah Republik Indonesia yang semakin maju dan mandiri. 

Kata Kencana sendiri secara harfiah dapat diartikan emas, hal ini bukan hal yang kebetulan dan bukan berarti Saka Kencana adalah Saka yang dianak emaskan.
Emas, dapat kita artikan bahwa melalui Saka Kencana (sebagai wadah dalam mengembangkan potensi remaja: dari, oleh, untuk remaja) Pramuka dapat mencapai tujuannya sebagai generasi yang berkualitas dan berencana, generasi yang dapat sampai pada puncak keemasannya.


Definisi diatas sejalan dengan apa yang diharapkan dalam Program PKBR (Penyiapan Kehidupan Berencana bagi Remaja) menuju Generasi Berencana (GenRe) yang telah dirumuskan oleh Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana (BKKBN).
 

Setiap Satuan Karya Pramuka memiliki Krida, Saka Kencana memiliki 4 krida diantaranya adalah:

1. Krida Bina Keluarga Berencana dan Kesehatan Reproduksi (KBKR)
2. Krida Bina Keluarga Sejahtera dan Pemberdayaan Keluarga (KSPK)
3. Krida Bina Advokasi dan Komunikasi, Informasi dan Edukasi (Advokasi & KIE)
4. Krida Bina Peran Serta Masyarakat (PSM)





Source:
1. Kep.Kwarnas Gerakan Pramuka No.166 Thn. 2002
2. http://www.pramukanet.org
3. http://artikata.com
4. http://www.bkkbn.go.id
5. http://pramuka.or.id
6. http://scoutpenjelajah.blogspot.com

Penyakit Yang Sering Timbul Dalam Organisasi

Kata Cohen dan Cohen (1993), ada dua kelompok penyakit psikologis perusahaan:

Kelompok pertama adalah penyakit psikosis (psychoses), yakni jenis penyakit psikologis yang menyebabkan penderitanya kehilangan kemampuan memahami realitas. Bila perusahaan menderita jenis penyakit ini, perusahaan sering memiliki persepsi yang salah tentang realita lingkungan bisnis yang mengitarinya. Oleh karenanya, dapat membuat inferensi yang salah terdapat pokok-pokok persoalan strategis yang dihadapi. Hal demikian tak hanya terjadi ketika signal lingkungan bisnis amat lemah, akan tetapi juga dapat terjadi ketika lingkungan bisnis telah memberikan signal yang nyata dan jelas. Termasuk dalam penyakit jenis ini adalah : perilaku mania (manic behavior), depresi mania (manic depression), sizoprenia (schizophrenia) dan paranoid.

Kelompok ke dua disebut neurosis (neuroses), yakni ketidakstabilan emosi. Sekalipun penderitanya tidak sampai kehilangan kontak dengan realitas, akan tetapi tidak mampu memahami realitas yang berlangsung. Indikasinya, perusahaan menunjukkan perilaku cemas, takut dan tidak rasional, lebih banyak bersikap reaktif dan tak mampu sama sekali bersikap proaktiv. Perusahaan cenderung memberi nilai pada aspek negatif yang berlebihan dibanding pada aspek positif terhadap peluang, tantangan, ancaman bisnis yang dihadapinya. Termasuk penyakit jenis ini antara lain perilaku neurotik (neurotic behavior), depresi (depression), intoksikasi (intoxication), obsesi kompulsi (obsessive compulsion) dan sindrom pasca trauma (post trauma syndrome).

Apabila perusahaan menderita penyakit psikologis secara kronis, bisa jadi perusahaan gagal mengembangkan keunggulan bersaing. Dalam keadaan yang demikian keunggulan bersaing yang dimiliki akan terus menerus mengalami penurunan (competitive sclerosis). (Gilad 1995)
Ujung-ujungnya, ia tidak mampu bersaing. Perusahaan tak lagi dapat menjalankan fungsi bisnisnya, yang disebut sebagai negaholik (corporate negaholic) oleh Carter-Scott (1991).

AKIBAT penyakit psikologik adalah :
a. rusaknya moral pegawai,
b. menurunnya produktivitas,
c. rendahnya kwalitas produk,
d. rendahnya mutu pelayanan konsumen,
e. frustrasi dan rusaknya karir pegawai,
f. praktik strategi bisnis yang tidak rasional dan memudarnya kepemimpinan.

1. Perilaku Mania
Memiliki kepercayaan diri yang berlebihan dan dipenuhi dengan rasa antusias yang tinggi yang pada gilirannya dapat menyebabkan sangat kecilnya peran logika dan prinsip bisnis dalam pengambilan keputusan. Perusahaan merasa memiliki kemampuan yang tak tertandingi. Oleh karenanya, perhatian ditujukan kepada perumusan rencana dan strategi bisnis yang berskala besar. Kadang manajemen menetapkan target bisnis yang amat tinggi, yang jika dievaluasi secara rasional berada jauh dari kemampuan yang selama ini dimiliki.

2. Depresi mania :
Jika digunakan metafora sebagai penjelas, maka organisasi yang menderita penyakit mania, selalu berada pada tangga nada suara yang tinggi secara terus menerus. Berbeda dengan depresi mania, organisasi yang sedang menderita penyakit ini, kadang berada pada tangga nada yang amat tinggi, namun di saat yang lain, secara mendadak berada pada tangga nada yang paling rendah. Berpindah-pindah pada dua titik ekstrim.
Lebih dari itu, proses tersebut terjadi berulang-ulang dan berkepanjangan. Ketika pada masa mania, organisasi berada pada moda yang antusias, memiliki kepercayaan yang berlebihan, namun jika berada pada moda depresi, organisasi secara mendadak kehilangan energi dan semangat sehingga organisasi hanya memiliki sifat yang apathis.

3. Sizophrenia:
Organisasi yang menderita penyakit ini, ditandai oleh perilaku manajerial yang tidak terorganisir (disorganized), diliputi suasana kebingungan, dan dengan demikian bersuasana chaos (kacau balau). Tak ditemukan perumusan dan implementasi strategi yang dapat dipertanggungjawabkan secara rasional.
Oleh karenanya tak heran jika banyak perilaku organisasi yang tak dapat dipertanggungjawabkan secara logis dan tak dapat diduga. Satu departemen tertentu amat sering tidak mengetahui apa yang sedang terjadi/sedang dikerjakan oleh departemen lain dan (tidak merasakan ) keterkaitan antara departemen. Sering juga ditandai dengan sikap overactive, akan tetapi tak terarahkan pada suatu target tertentu.
Beda mania dengan sizophrenia adalah bila pada mania secara pokok memiliki visi, misi dan target yang sangat ambisius dan tak realistis, maka pada sizophrenia terletak pada tidak adanya visi, misi, tujuan dan strategi bersaing yang jelas dan logis. tak ada rumusan kebijaksanaan. Kalaulah ada hampir bisa dipastikan tidak koheren (runtut) dan tidak komprehensif. Oleh karena itu, suasana kerja diliputi ketegangan dan dengan tingkat stress yang tinggi. Dalam aktivitas sehari-hari, orang tidak memahami apa yang diharapkan akan dicapai oleh dirinya sendiri, yang pada gilirannya berakhir pada munculnya rasa khawatir (tidak aman) yang berlebihan.

4. Paranoid:
Organisasi yang menderita penyakit ini ditandai oleh rasa tidak percaya pada siapapun yang berada di dalam atau di luar organisasi. Organisasi memperlakukan siapa saja, termasuk pegawai dengan sikap curiga yang berlebihan. Mereka dilihat sebagai ancaman yang diperkirakan akan mencoba mengambil (mencuri) keunggulan bersaing yang dimiliki organisasi. Oleh karenanya tak jarang, lingkungan kerja menjadi tak bersahabat dan berkembang subur sikap saling curiga.

5. Neurotik:
Penyakit ini ditandai rasa takut yang berlebihan. Jelasnya, organisasi memiliki sifat sebagai penakut. Gejala yang terlihat adalah adanya kekhawatiran atau ketakutan akan ketidakmampuan organisasi dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Orang-orang dalam organisasi cenderung memutuskan dan memulai aktivitas dengan menggunakan waktu, dana dan tenaga yang lebih ditujukan untuk menghindari kegagalan dibanding tujuan tuk memperoleh keberhasilannya.

6. Depresi:
Indikasinya adalah kapasitas organisasi terus menerus mengalami penurunan. Pemilik, manajer, dan karyawan yang terlibat di dalamnya bersikap apathis. Mereka tak peduli dengan masa depan organisasi karena mereka tak merasa memiliki kekuatan untuk berbuat sesuatu. Mereka tak memiliki gairah bekerja dan lebih dari itu tak memiliki komitmen. Mereka tak memiliki kemampuan untuk melakukan mobilisasi sumber daya dan dana untuk mencapai misi dan tujuan organisasi. Lebih tragis lagi, ketidakmampuan tersebut justru menjadi pendorong tingginya intensitas depresi yang diderita.

7. Intoksikasi:
Perilaku dalam organisasi persis seperti orang yang kecanduan alkohol atau obat terlarang, persis seperti perilaku orang mabuk. Sekalipun paham bahwa penyakit tersebut memberikan efek negatif, akan tetapi organisasi biasanya tak dapat menerima kenyataan bahwa dirinya sedang menderita penyakit intoksikasi. Oleh karena itu organisasi tidak memiliki keinginan atau bahkan tak mampu mendeteksi penyakit yang sedang diderita. Akibatnya organisasi cenderung menolak tantangan. Organisasi menutup mata dan telinga untuk menangkap signal bisnis, baik yang datang dari internal maupun eksternal. Cepat atau lambat, organisasi akan terjerumus ke dalam jurang kegagalan.

8. Obsesi kompulsi:
Penyakit ini ditandai dengan adanya keinginan yang kuat untuk mengerjakan segala sesuatu secara sempurna. Tak ada kata hanya sekedar baik atau cukup, apalagi minimalis. Akibatnya, organisasi tak mampu sedikitpun memeberikan toleransi terhadap sekecil apapun kesalahan yang terjadi, yang pada gilirannya dapat memberikan dorongan untuk memberikan hukuman kepada mereka yang berbuat kesalahan.

9. Syndrom pasca trauma:
Penyakit ini berupa ketidakstabilan emosional yang terjadi setelah seseorang mengalami pengalaman yang traumatis yang sulit dilupakan karena kesalahan antisipasi yang dibuat terhadap peristiwa yang dinilai memiliki pengaruh berkepanjangan dan signifikan tersebut.
Organisasi dapat mengalami sakit jenis ini setelah ia mengalami peristiwa yang traumatis, misalkan sebagai akibat pengambilan secara paksa (take over), kekalahan kontrak, reorganisasi besar-besaran, rekayasa ulang organisasi, kematian pemilik, kekalahan di pengadilan, perubahan lingkungan bisnis.
Bentuk riil penyakit ini berupa hilangnya orientasi organisasi (disorientasi), yang biasanya ditandai dengan ketidakajegan (inkonsistensi) kebijakan pokok organisasi.Gejala yang muncul misalnya berupa keterkejutan yang berlebihan (shock), perilaku yang tidak konsisten, diingat-ingatnya dan dipertimbangkannya secara terus menerus kegagalan masa lalu dalam pengambilan keputusan strategis, dan adanya konflik perencanaan dan eksekusi kebijaksanaan dengan kebutuhan riil yang mendesak.